richard kurniawan's site

richard's posts with tag: papua the blackpearl

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag papua the blackpearl
Photo AlbumPapua 1st visit - the addition (21 photos)Jun 15, '07 3:09 AM
for everyone

These photos are the addition of my previous album during my 1st visit to Papua.
You can also read the trip report in my multiply blog.
Hope you enjoy the pictures....

Blog EntryJayapura - Hongkong van PapuaJun 13, '07 12:19 AM
for everyone


Baru saja gue balik dari jalan ke SumBar bersama temen-teremen photographer, blom bener2 tune in gitu eh tau tau langsung diminta ngebantu tim kantor ke Papua; Persisnya di Merauke. Namun demikian gue excited karena blom pernah menginjak pulau di Timur Indonesia yang kata-katanya eksotik ini.

Sebenernya siy ada tiga tempat yang mestinya dibantu, duanya di Ternate dan Sorong. Namun Sorong sudah terlalu mevett… Sementara Ternate dengan pertimbangan ini dan itu akhirnya tidak dipilih; Jadi cuman Merauke saja.

Setelah melihat schedule pesawat dan alasan keamanan dipilihlah airline Garuda dari Jakarta ke Jayapura via Denpasar. Yang kemudian dilanjutkan menggunakan Merpati dari Jayapura ke Merauke keesokan harinya. Walau ada penerbangan Merpati dari Jakarta ke Merauke dengan transit Makassar, Biak dan Jayapura, gue berusaha menghindari penggunaan airline selain Garuda, mengingat banyaknya kecelakaan penerbangan :( . Namun hanya airline Merpati dari Jayapura ke Merauke sehingga tak ada pilihan lain (sebenarnya ada, namun airline dengan pesawat lebih kecil).

Waktu yang tersedia untuk persiapan kurang dari seminggu sebelum keberangkatan bahkan cuman 3 hari kerja sebenarnya, hal ini disebabkan karena acara utama adalah hari Kamis, namun gue harus tiba di Merauke hari Rabu; Dan untuk mencapai Rabu di Merauke, gue harus berada di Jayapura hari Selasa. Dan itu berarti gue harus berangkat dari Jakarta hari Senin malam. What a wasting time!! Acara yang cuman sehari namun harus pergi selama 5 hari dan 5 malam.

Dalam waktu yang cukup singkat untuk persiapan, gue juga berusaha cari tau tentang Merauke lebih jauh dari beberapa milis yang gue ikuti. Dan dugaan gue untuk persiapan anti malaria ternyata benar, beberapa kawan di milis menganjurkan untuk persiapan anti malaria; Dan dalam hal ini gue mengkonsumsi Resochin seminggu sebelum tiba di Merauke (Rabu). Namun demikian, gue rada telat, semestinya gue harus mulai mengkonsumsi pada hari Rabu, tapi karena begitu mendadak plus lupa satu hari, gue baru mulai mengkonsumsi hari Jumat. Salah memang, dan untuk hal ini gue cuman bisa berdoa mohon perlindunganNya.

Hari Senin tanggal 16 April 2007, gue brangkat ke kantor sudah lengkap dengan packing untuk langsung ke Airport malam harinya tanpa balik lagi ke rumah; Sementara rekan kerja gue pada balik tengah hari untuk persiapan ini itu, ahhh kurang efisien menurutku. Kesepakatan berangkat bersama dari kantor jam 19 malam jadi molor jam 19.30 an. Kami tiba di Airport sekitar pukul 21. Awalnya gue planning untuk menggunakan CITIBank lounge, namun ternyata bahwa informasi yang gue dapat bahwa CITIBank menerapkan potong point (kalo gak salah 2500 point) ato payment sejumlah Rp 50.000 membuat gue jadi jengah. Sementara alasan lain, lounge juga sebentar lagi tutup dan gue juga tidak membawa Credit Card lain (untuk lounge lain, yang juga bakal tutup tidak lama lagi) membuat makin jengah untuk ke lounge. Akhirnya bersama-sama nongkrong di café yang sudah sepi dan juga akan tutup… payah, Airport international tapi koq gak 24 jam yak??

Pesawat berangkat terlambat cuman 5 menit. Sayang sekali saat check in kita meminta supaya bisa dalam satu baris, namun lupa meminta supaya tidak ditempatkan di belakang. Akhirnya penerbangan yang lama ini menjadi sangat melelahkan karena kursi paling belakang tidak bisa reclining. Gue sedikit beruntung, ada kursi kosong dan gue pindah ke kursi yang bisa reclining, lumayan lah, walo teteup susah tidur sepanjang perjalanan ke Jayapura dengan transit di Denpasar. Sekali lagi gue salah di Denpasar, saat transit di Denpasar mestinya gue tidak turun pesawat, karena lebih enak bobok di pesawat daripada turun dan gak bisa bobok di airport Denpasar yang sudah sangat sepi di tengah malam. Keberangkatan pesawat dari Denpasar ke Jayapura ternyata terlambat hampir setengah jam tanpa alasan yang jelas… ah sudahlah, ngantuk boww. Di pesawat cuman bisa tidur ayam sampe di Jayapura sekitar pukul tujuh pagi.

Saat menunggu rekanan menjemput di bandara Sentani - Jayapura, gue dan kawan-kawan beserta barang bawaan di sambut kupu-kupu besar warna coklat. Sempet juga gue jepret fotonya. Ternyata rekan lokal gue terlambat menjemput adalah karena jembatan putus yang terletak dekat bandara, sehingga mobil tertunda sekitar setengah jam. Namun demikian rekan lokal gue sangat baik hati; Beliau menumpang ojek untuk bisa ngobrol menemani gue di bandara, sementara mobil disetir kawannya. Ngomong punya ngomong, ternyata beberapa minggu yang lalu terjadi banjir bandang dari gunung sehingga sungai meluap dan jembatan runtuh karenanya.

Perjalanan menuju hotel Swiss-Belhotel melewati jalan memutar melewati bukit untuk menghindari kemacetan. Lewat sini pun tampak bekas sungai-sungai kecil yang penuh batu dan tererosi banjir. Dari ngomong-ngomong ternyata pada saat banjir bandang banyak sekali hewan ternak yang bergelimpangan, umumnya babi dan sapi. Sepanjang perjalanan gue melihat banyak bekas tanah longsor; sementara beberapa puncak bukit banyak dijumpai tanda salib yang menandakan cukup banyak penganut agama Kristiani; Sayang camera yang gue bawa tidak dilengkapi dengan lensa tele untuk mengambil gambar2x puncak bukit tersebut. Sempat juga mampir di suatu bukit dimana didirikan klenteng, rumah ibadat pemeluk Kong Hu Cu yang cuman beberapa ratus meter dari Youtefa, lokasi strategis untuk menikmati pemandangan teluk Jayapura. Pendapat gue, kontur geografis sepanjang perjalanan yang memutar ini sangat menawan.

Akhirnya gue tiba di hotel setelah perjalanan selama 1 jam lewat; Namun kami tidak bisa langsung check-in karena kamar belum siap dan harus menunggu sekitar 1.5 jam lagi, aarrcchhh. Rupanya bukan gue saja yang tidak bisa check-in, rombongan dari dinas POM juga mengalami kendala yang sama. Hotel ini masih baru, belom sebulan grand-opening dan baru Nopember ato Desember lalu soft-opening dan tampaknya merupakan hotel terbaik saat ini di Jayapura, sekelas Ibis lah di Jakarta. Namun karena letaknya strategis di tepi pantai (sayangnya bukan pantai landai berpasir) dan dilengkapi kolam mungil dan fasilitas lainnya membuat suasananya menjadi nyaman. Sambil menunggu kamar kosong dan dibersihkan, gue sempet moto moto karyawan hotel dan juga beberapa obyek lainnya. Begitu sudah bisa masuk kamar, gue langsung ‘leyeh-leyeh’. Karena nanti lunch bersama rekan sekaligus client.

Makan siang di tepi danau Sentani di resto Yougwa (Jl Raya Danau Sentani) memang memberi kesan tersendiri, baik dari sisi lokasi yang menawan maupun dari menu yang bener2 menggoyang lidah. Sayangnya ini bisnis trip, jadi obrolan teteup ajah bukan obrolan tentang liburan, huehehe. Kami semua tidak memesan Papeda dengan soup Ikannya karena memang kami tidak tertarik, apalagi tidak direkomen oleh rekan lokal gue, hehhehe; Namun menu Udang, Sayur dan Steak ikannya memang sungguh nikmat. Dan karena gue begitu laparnya, sampe gak sempat moto makanannya. Sayang satu kawan gue masih ‘molor’ di hotel, hehehe. After lunch, ada satu lagi client yang bertemu. Setelah ngobrol ini itu, gue diantar ke ‘menara’.
Sebuah bukit kecil dimana pada awalnya adalah letak sebuah salib raksasa berlampu indah diwaktu malam dan juga terdapat plank nama ‘Jayapura City’. Namun keindahan di tempat yang dijuluki ‘menara’ ini menjadi rusak karena banyak didirikan BTS untuk cellphone… aahhhh sayang. Dan juga kurangnya penerangan dan penertiban sehingga dijadikan tempat pelarian bagi pelajar yang mbolos dan pacaran. Sementara sedikit dibawah lokasi menara menjadi tempat ‘mobil goyang’. Namun bagaimana pun juga, lokasi yang dinamai ‘Menara’ ini memang cantik dan strategis untuk menikmati kota Jayapura dari ketinggian. Danau Sentani dan Menara are recommended lah.

Malam hari gue balik ke hotel dan menemukan kawan yang tadi molor ternyata masih molor, gilak! Setelah mandi dan bersih-bersih gue makan malam di depot Chinese Food didepan hotel. Memang benar apa yang dikatakan rekan milis gue, kalo makanan mahal di Jayapura. Makan malam nasi capjay 25 rebu, pheww. Sedangkan makan siang tadi berlima di Yougwa kami habis 530 rebu lebih.

Setelah makan malem, gue sempet sempetin moto kota Jayapura yang cantik diwaktu malam dengan lampu kerlap kerlip mirip Hongkong. Very beautiful. Kota yang terletak ditepi pantai namun juga di kaki gunung dengan kontur yang tidak membosankan dengan jalan yang mulus. Apalagi dalam jangkauan setengah jam kita bisa temui danau Sentani yang memikat hati. Sedikit sayang kota ini kurang modern dibanding ibukota Propinsi di Jawa. Satu lagi yang perlu di catat adalah keadaan cuaca yang cepat berubah; Saya ingat pagi hari tiba diairport hingga tiba di hotel cuaca cerah dan bersahabat. Siang hari keluar hotel menuju danau Sentani saat lunch terasa panas dan kering. Namun saat lunch di danu Sentani tiba2 hujan sangat deras; dan kemudian reda dan panas lagi. Sore hari menjadi sejuk dan berangin. Kondisi tubuh yang kurang baik karena kurang tidur membuat hidung saya sebelah jadi buntu. Cukup beruntung karena saya sudah membawa obat2an ringan.

Sebelum berangkat bobok, kami sempatkan untuk memesan kendaraan pengantar dari hotel ke airport saat subuh dan juga morning call kepada petuga hotel… Acara berikutnya… bobok lah yauwww

Pagi hari sebelum morning call, ternyata gue sudah bangun dari jam tubuh sendiri dan juga alarm dari PDA. Morning callnya lebih telat.. he3x. Setelah bersiap ini dan itu, gue ke lobby hotel untuk menyelesaikan administrasi; Dan sungguh kaget, karena mobil pengantar tidak ada… edan, koq bisa begini! Gue ngomel, sudah dipesan dan sudah dibayar, hotel harus cari mobil dipagi buta entah dengan cara bagaimana... God bless us, akhirnya dapet mobil deh.. uhuiii

Perjalanan ke bandara ditempuh dalam waktu cepat, selain karena memang masih sepi (sekitar pk 6 pagi) juga karena rada ngebut dan juga lewat jalan normal yang tidak memutar bukit. Ternyata jembatan yang putus dan hanya dilewati kendaraan roda empat satu arah tersebut terletak tidak lebih dari 300 meter sebelum gerbang bandara.

Gue gak memperhatikan jam saat pesawat Merpati tujuan Merauke take-off, namun gue yakin terjadi keterlambatan. Pesawat full, dan dalam penerbangan kurang lebih 1 jam sempet njepret beberapa foto; namun gue tidak menemukan pemandangan Taman Nasional Wasur yang katanya banyak bintik2 putih yang sebenarnya adalah burung kakatua berwarna putih dalam jumlah ribuan (atau jutaan?). Setiba di bandara Mopah – Merauke, gue dijemput client yang tinggal di Merauke. Dan langsung dibawa ke depot Coto Makassar. Secara rasa, emang gak istimewa, namun cukup enak; Yang istimewa adalah porsinya yang lebih besar dan banyak dagingnya. Heavy breakfast niy, kuenyannnngg!

Setelah sarapan Coto, gue langsung check-in di hotel milik pemerintah setempat namanya hotel Asmat, yang konon hotel terbaik di Merauke. Hotel ini satu lantai dan mungkin lebih tepat disebut wisma. Tempatnya sederhana dan hanya ada fasilitas air panas saja. Yah persis wisma tempo doeloe lah.
Gue beristirahat sejenak sebelum berangkat makan siang.

Siang hari gue berangkat untuk makan siang di rumah makan Padang. Wah, rupanya rumah makan Padang terluas yang pernah gue kunjungi, hehehe. Bener luas walo hanya satu lantai. Sayang, makanan yg khas dan enak rupanya sudah habis, dan bahkan gue lupa namanya untuk crita di sini.. he3x, tapi kalo tidak salah berhubungan dengan ikan-ikanan. Setelah makan siang kami sempatkan untuk berputar sejenak melihat kota Merauke. Menemui beberapa rekanan bisnis di café dan juga melihat dermaga dan kantor dinas setempat yang akan menjadi tempat acara esok hari. Rupanya kekurangan tidur, beda waktu 2 jam terhadap Jakarta dan cuaca yang berubah-ubah membuat badan kurang fit. So, balik ke Asmat dan gak muter alias istirahat.. Well, salah satu alasan juga adalah temen seperjalanan dinas gue bukan orang yang suka jalan.

Malam hari kami diundang untuk makan malam bersama dirumah rekanan bisnis kami. Menu lumayan bermacam-macam namun penekanannya adalah dari bahan dasarnya.. daging rusa. Jadi ada bakso daging rusa, sate daging rusa, rendang daging rusa, sop daging rusa. Serba daging rusa deh, mantafff. Sayang perut ini masih belum benar-benar lapar, sehingga makanan yang tersedia dalam porsi aduhai itu tidak tandas. Setelah ngobrol sana-sini kami berputar-putar kota sejenak melihat kota Merauke dimalam hari dengan sedikit gerimis halus. Terus balik hotel Asmat, nonton tipi. Sebelum bobok, gue sempetin muter sekitar hotel Asmat, dan ternyata dihalaman belakang ada rusa yang diikat sedang merumput; Wah jadi inget kalo di Jawa biasanya kambing yang diikat, kalo disini malah rusa; Lain ladang lain belalang. Setelah puas, bobok. (hiks hidung gue buntu, jadi tidurnya tidak nyaman juga)

Pagi hari sesuai jadwal, gue bangun langsung mandi en siap-siap urusan kerjaan. Setelah sampai dilokasi ternyata masih menunggu ini dan itu, rupanya pihak tuan rumah juga kurang well-informed dengan orang pusat yang punya gawe. Gue dan rekan2 yang diundang untuk membantu jadi ikutan nunggu; kesempatan ini gue pake untuk sedikit jeprat-jepret sekenanya sekitar lokasi, walo tidak banyak obyek bagus. Akhirnya acara dimulai juga dengan pindah ruangan yang lebih besar. (Untuk urusan acara kerjaan gue tidak tulis di catper ini yak). Siang hari acara ditutup dengan makan siang yang telat juga.

Sisa hari gue sempatkan untuk ke Taman Nasional Wasur (rekomendasi temen yang kesana 10 taon lalu katanya bagus banget) yang dengan perjalanan pake Kijang kotak ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam untuk mencapai pintu gerbangnya. Ada pungutan liar (tanpa tiket resmi) di Pintu Gerbang, sayang gue lupa nilainya. Gue tidak masuk terlalu dalam, karena beberapa alasan, selain karena menggunakan mobil sederhana (bukan 4WD), juga karena rekan gue bukan orang yang suka jalan, bahkan ketakutan akan kemungkinan serangan Malaria (padahal sebelum berangkat sudah gue warning untuk mengkonsumsi anti malaria dulu), yaaachh… sudahlah.
Gue cuman moto Rumah Semut, yang sebenernya adalah rumah rayap yang terbuat dari tanah. Sedangkan banyaknya semut disekitar rumah tanah yang keras tahan pukulan itu sebenarnya adalah semut yang menunggu rayap yang jatuh dan akan menjadi santapan semut yang sudah kelaparan. Rumah Semut ini memang benar-benar menarik dan lain dari pada yang lain, liat ajah fotonya, amazing dah! Cerita kawan sebelum berangkat bahwa di TN Wasur banyak rusa dan burung kakatua ternyata tidak terbukti. Kata orang setempat adalah karena sudah banyak yang diburu dan juga karena disiang hari biasanya rusa masuk jauh ke dalam hutan. Gue sempet juga mampir di daerah rawa dimana dibangun gardu bengong untuk duduk-duduk. Tidak ada yang istimewa, selain cuman gardu kayu tersebut dibangun di atas telaga kecil/ rawa, dan sejumlah rumah rayap dalam ukuran yang lebih kecil dari yang gue foto sebelumnya. Mungkin kalo gue lebih teliti, bisa menemukan angle yang tepat buat moto dan gue yakin itu. Yang rada aneh, ada sepasang anak manusia yang selalu membuang muka ato menutup wajahnya saat gue lewat, apa alasannya?? Mbolos sekolah/ mbolos kerja?? Meneketehe…..

Dalam perjalanan pulang dari TN Wasur, gue mampir ke Pantai Merauke, wah lupa namanya (resiko mbikin catper yang udah sebulan lewat). Ternyata airnya buthek sekali warna coklat. Jadi ogah main air, cuman menikmati angin berhembus, bermain pasir sedikit dengan anak2 rekanan kami, moto seadanya. Informasi yang gue dapet, saat surut orang bisa berjalan rada jauh ke laut, keliatannya memang demikian halnya mengingat terlihat beberapa gosong dengan rumput yang masih menyembul daunnya di lepas pantai dan sebagian perahu nelayan tidak sembarang bisa ketengah laut selain harus melewati jalur2 tertentu. Mustinya bisa siy moto view yang mayan oke dengan human interest perkampungan nelayan yang kental.

Sebelum tiba di hotel Asmat, kami mampir sejenak di kompleks Universitas swasta yang akan di ‘negeri’ kan (lagi-lagi lupa namanya). Mampir ini adalah karena ada pesan sponsor dari boss untuk melihat kondisi lapangan universitas tersebut, entah untuk kepentingan apa. Sore hari gue tiba di hotel, bertemu dengan ‘orang pusat’ yang punya gawe sedang bersiap-siap berangkat ke TN Wasur,.. gue malah sudah balik heheheh.

Setelah istirahat sepanjang sore, gue siap2 buat dinner. Kali ini pilihannya adalah Chinese Food. Lupa lagi nama restonya, tapi karena cuman satu-satunya yang bagus, gak bakal salah lagi kalo ke sana. Hmm uenakk tenan, rasanya chinese food dimana-mana tidak banyak berbeda. Te O Pe Be Ge Te deh. Saking nafsunya jadi nggak moto malahan. Kekenyangan dan capek ngobrol sana sini, rasa ngantuk langsung menyerang. Balik hotel, zzzz….

Esok pagi langsung siap-siap ke erpot balik ke Jayapura. Gak banyak yang istimewa di perjalanan balik. Sampai di Jayapura, langsung dijemput oleh pak Gonol, driver yang sudah gue pesan sejak mengantarkan kami dari Swiss Belhotel ke erpot Jayapura sebelumnya (komitmen driver koq bisa lebih bagus dibanding komitmen hotel?? Hehehe). Seperti kedatangan kami dari Jakarta sebelumnya, rute ke hotel yang dilewati juga sama. Namun sesampai di Jayapura setelah check-in di Swiss Belhotel, gue sempet-sempetin untuk ketemu dengan beberapa client lagi. Setelah semua beres, gue dan kawan-kawan lunch di restoran Padang ‘Cari Bundo’ di deket hotel. Woalahhh harganya gileeee men!!!. Kita makan berlima habis lebih dari 300 rebong, aje gile.

Habis lunch baru belanja kaos gambar khas Papua, harganya memang rada mahal, secara memang di Jayapura harga serba moahal. Lalu juga nyari pesenan kawan (yang ortunya sakit keras) ‘Sari Buah Merah’ bikinan pak Made (beliau bukan dokter namun punya latar belakang ahli gizi) yang lumayan jauh di Abepura (malah hampir keluar kota Abepura); Bagi yang memerlukan, letaknya ada di sebelah kiri jalan selewat jembatan besi sudah deket luar kota Abepura (setelah pusat kota Abepura) kalo dari arah Abepura ke Erpot.

Setelah balik ke hotel lagi baru sadar rupanya wastafel kamar kurang beres. Air buangan tidak bisa mengalir dengan lancar. Gue komplen ke hotel, rupanya tanggapannya lelet juga, entah kenapa. Ya udahlah, toh cuman semalem. Sore hari sudah nyaris gelap gue coba lagi moto Jayapura dari pantai dibelakang hotel, sayang sudah rada telat, namun hasilnya siy menurut gue tidak terlalu jelek; bener juga kata client kalo Jayapura seperti Hongkong di malam hari. Gue asyik moto krn emang viewnya oke banget dan menikmati sore hari, sementara kawan seperjalanan entah punya acara apa, ada yang ke fitness, ada yang molor, acara udah free neh. Di dalem hotel, sempet juga moto bartender yang bangga beraksi saat difoto. Setelah puas moto, gue gantian yang fitness, sayang keinginan untuk berenang tidak tercapai, for many reasons.

Sementara kawan lain nyari dinner, gue masih nyari kringet, he3x. Gile juga nih ruang olah raga dingin banget AC-nya; Karena gue cuman sendiri jadilah gue atur temperatur semau gue. Saat nyari kringet, gue sempet kenalan dengan penduduk lokal Jayapura tapi bukan asli native, sempet ngobrol dan foto-foto lagih. Ternyata penduduk sana ramah-ramah juga ya. Sempet juga ketemu dengan salah satu pejabat hotel, gue langsung crita mengenai wastafel yang tidak beres. Reaksinya cepet kali ini. Saat kembali ke kamar, ternyata wastafel sedang diperbaiki, gue jadi gak bisa langsung mandi setelah berkeringat ria. Beliau menawarkan pindah kamar, namun mengingat banyaknya barang dan kawan2 yang masih diluar, tawaran tersebut gue abaikan dan memilih menunggu. Setelah dicek, rupanya problem justru di saluran kamar yang tepat dibawah kamar gue, jadi deh mereka nge-cek kamar di bawah. Gue sempetin mandi, sementara mereka nge-cek kamar di bawah. Pas gue kelar mandi, mereka balik dan melakukan cek and ricek wastafel di kamar gue. Beress!!.

Kawan-kawan sudah balik dari dinner, sementara gue baru mo cari makan malam sekitar pukul sepuluh malam. Gue lupa kalo aktivitas di kota ini berakhir sekitar pukul sembilan ato sepuluh. Jadinya restoran sudah pada tutup. Terpaksa balik hotel dan pesen dinner di hotel. Bisa dibayangin deh mahalnya, kalo makan di hotel sudah mahal, ini di Jayapura pulak. Klop deh harga mahalnya, nasi sapi lada hitam dengan teh secangkir totalnya bisa 75 rebu lebih… hiks, padahal rasanya juga standar gitu loh. Kelar makan (sedikit gak rela duit segitu) langsung balik kamar, bobok.

Esok pagi-pagi banget, sudah siap harus berangkat balik Jakarta. Ternyata pesawat Garuda harus transit di Biak. Jadi deh sekedar menginjakkan kaki di Biak via Bandara Frans Kasiepo, he3x. Masih ada transit sekali lagi di Makassar sebelum tiba di Jakarta. Hmm bisa dianggep long trip juga yak, lah waktu tempuhnya seperti ke Hongkong saja…. (eh bener juga ya?.. Jayapura – Hongkong van Papua).

Foto? Ada di album photo gue; Ada dua album tuw. Kalo mo lebih lengkap mampir deh ke rumah gue.. :))


Photo AlbumPapua 1st visit (10 photos)May 1, '07 11:21 AM
for everyone

The title reflects that I will be going there again in the near future...; Hopefully not for business, but for fun.. :D
These are only few, I will add some more photoes. Just wait....

O ya,.. you can read the story in my Blog, there are some other photo there

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.