richard kurniawan's site

(Continuation of Papua Underwater Heaven Trip - The Story, Part I - http://richardkurni.multiply.com/journal/item/6)
 
Kontes hari ketiga dimulai dengan tujuan divespot Mioskon yang mana sudah dikunjungi pada hunting foto hari pertama namun saat itu situasinya kurang menguntungkan sehingga mendorong peserta dan panitia untuk mengulang. Kondisi badan gue masih tidak enak dan susah makan, namun gue paksakan untuk makan apa yang mampu dimakan, seperti cemilan singkong goreng dan sebagainya yang lebih mudah masuk daripada masakan ikan dan sayur yang umumnya pedas dan terus menerus sejak hari pertama. Diving di Mioskon kali ini memang lebih oke dibandingkan sebelumnya; Schooling sweet lips sungguh menawan hati, sayang kamera gue kurang mampu untuk mengabadikan indahnya alam bawah air ini. Syukurlah banyak foto yang lain bisa diambil dalam situasi ini. 
 
Dive kedua hari ini mengulang divespot yang kemarin diubah, yakni Batu Lima. Kontur dasar laut yang merupakan gabungan drop off dan slope sungguh menarik, bahkan ada celah yang bisa menjadi obyek foto yang sangat bagus. Namun sayang gue dan kebanyakan diver lain melewatkannya. Mungkin karena sebagian besar kurang mengetahui detil medan. Celah ini baru gue tau setelah salah satu panitia pendamping yang sudah beberapa kali ke sini bercerita setelah kelar diving. Hmm, kalo sebelum diving mgkn gue akan cari tuw celah, hahahha. Belakangan juga gue denger kalo group III mengambil destinasi yang sangat jauh untuk mengejar obyek Manta, wah hebat semangatnya. Gue angkat topi buat usaha dan jerih payahnya. 
 
Hari ini rupanya semua peserta mampu melakukan diving 3x setelah penambahan dan pengisian tanki terus menerus dilakukan semalaman. Dan sebagai sasaran dive ke tiga adalah kembali ke Saunex Jetty, yang memang menjadi divespot favorit. Tujuan utama gue ke sini kali ini adalah mencari dan memfoto Ornate Ghost Pipe Fish. Namun rupanya setelah sesi foto kemaren yang penuh ‘ide kreatif’ membuat criters ini bersembunyi ato bahkan berpindah tempat. Jadi gue tidak menemukan sasaran utama, ya sutra lah. Untuk selanjutnya mungkin gue tidak perlu cerita karena memang divespot ini sungguh bagus dan recommended. 
 
Kembali malam hari penuh keceriaan dengan hasil foto yang aduhai. Sayang badan gue ajah yang nggak sehat terasa makin drop dan efeknya mulai makin terasa. Keliatannya maag gue rewel dan masuk angin sehingga mencret-mencret. Ahh sungguh mengganggu hingga tengah malam pun harus ke WC karena mencret-mencret trus; Bisa dibayangkan makan sudah sangat sedikit karena susah masuk, masih mencret-mencret juga. Jadi pastilah perut kosong melompong. Obat maag dan anti diare dikonsumsi. Apapun makanan/ cemilan yang tidak eneg gue paksakan masuk, juga minum air yang diberi campuran semacam nutrisari untuk mempermudah di telan. Gue harus bisa bertahan untuk tidak makin parah dan ambruk. 
 
Esok hari adalah hari bebas dimana pemotretan hari ini tidak dikumpulkan dan tidak menjadi bahan kontes bagi panitia. Gue merasa lebih baik istirahat daripada mengikuti  nafsu untuk terus diving seperti peserta lainnya. Seharian gue tiduran terus sambil sedikit-sedikit ngemil dan minum. Siang hari gue juga baru tau kalo salah satu peserta yang kebetulan juga seorang dokter (kandungan) juga kurang enak badan dan beristirahat juga sepanjang hari. Praktis hari ini gue tidak banyak melakukan aktivitas selain tiduran, sementara peserta lain melakukan setidaknya 2x dive. 
 
Malam hari ini merupakan malam hari terakhir tidur di WaiSai karena esok hari sudah harus balik ke Sorong. Mulai sore tadi, para peserta dan panitia sudah mulai packing, sementara gue masih ogah-ogahan karena badan tidak sehat. Namun demikian malam hari, semua foto gear dan dive gear gue sudah gue pretelin dan diangin-anginkan supaya kering dan esok pagi tinggal masuk tas.
 
Esok pagi semua peserta sibuk dengan pengepakan, termasuk gue yang belom packing sama sekali dari kemaren. Namun mungkin karena gear gue nggak banyak jadi packing cepet selesai, termasuk dismantle telpon satelitnya juga. Semua bagasi mulai dibawa ke dermaga untuk boarding ke kapal. Kapal untuk bagasi rupanya dibedakan dengan kapal untuk penumpang, karena penumpang akan menuju ibukota kabupaten untuk mengikuti ceremonial perayaan kabupaten dan juga tentunya penyerahan trophy bagi pemenang. Kota yang kecil (maaf lupa namanya) ini sebenarnya masih satu pulau dengan WaiSai, yaitu pulau Waigeo, namun pencapaiannya jauh lebih mudah dengan menggunakan kapal karena blum ada jalan darat untuk ke sana. Dalam perjalanan ini ada salah satu boat yang rewel mesinnya, namun dapat diatasi di tengah laut. Saat mendekati dermaga, boat kami diminta menyingkir (loh kenapa?), rupanya ada pejabat kepolisian yang hendak mendarat juga padahal mereka ada di belakang rombongan kami. Suatu kebiasaan pejabat yang menurut gue kurang simpatik.
 
Di dermaga ibukota kabupaten Rajah Ampat kami melanjutkan perjalanan di tanah keras bergelombang dengan minibus sekitar 15-20 menit menuju pusat kota dimana ada kantor pemerintahan setempat. Upacara rupanya sudah berlangsung dan rombongan kami masuk lewat belakang (rupanya kompleks kantor pemerintahan ini baru sehingga di sana-sini masih banyak bekas pembangunan dan genangan air) dan duduk manis dideretan belakang. Di akhir acara, pengumuman dan pembagian trophy dilakukan dan seperti yang gue duga rekan kami Achung seorang photographer pro menjadi grand winnernya. Dan untuk menyemarakkan suasana, semua hasil foto masing-masing peserta yang paling menarik dipamerkan; Namun dikarenakan satu dan lain hal maka hasil foto itu harus dipegang satu persatu oleh masing-masing peserta sebagai standing supportnya. Begitu acara kelar, peserta dipersilahkan makan, lagi lagi menu utama adalah ikan. Jadi selama lima hari berturut-turut rombongan kami makan ikan dan ikan, walo cara penyajiannya berbeda-beda, kadang digoreng, disup ataupun dibakar/ diasap. Ikannya adalah ikan besar-besar segedhe paha (tuna, cakalang, tengiri, kakap), yang menurut gue kurang gurih dibanding dengan ikan yang sama namun lebih kecil yang biasa dijumpai di Jakarta. Beberapa peserta gue amati sudah tidak nafsu makan dan memilih cukup minum saja; toh siang nanti sudah balik ke Sorong. Gue sendiri sudah mulai bisa makan walau sedikit, kondisi badan gue rupanya sudah membaik; Syukurlah. Yang menarik di sini adalah selain ikan, ubi juga menjadi lauk pendamping nasi. Kelar makan, rombongan langsung naik minibus balik ke dermaga dan lanjut ke Sorong dalam 2 jam perjalanan speedboat. Rupanya speedboat yang sama yang gue tumpangi dari Sorong ke WaiSai sekarang lebih kencang dan bahkan paling kencang dibanding speedboat lainnya, mungkin mesinnya sudah diservice. Perjalanan balik ini dirasa lautnya lebih bumpy daripada saat gue datang, namun masiy oke lah.
 
Sampai dipelabuhan Dinas Kelautan dan Perikanan rombongan speedboat gue sempet ‘leyeh-leyeh’ dulu menunggu speedboat yang lainnya. Ada salah satu boat malah mendarat di pelabuhan perikanan nelayan, halah koq bisa gitu?. Anyway, begitu rombongan lengkap kami langsung melanjutkan ke Sorong dan check in di hotel yang sangat dekat dengan airport Sorong, hotel La Meridien. Rupanya hotel tiga (atau empat) lantai ini belom dilengkapi dengan lift, sehingga kami harus naik tangga untuk mencapai kamar masing-masing. Sedangkan bagasi gear kami yang berat kami tinggal di lantai dasar, titip dengan pihak hotel. Kamarnya oke dan luas, gue trus mandi menikmati air tawar Sorong dan kemudian ngobrol dengan peserta lainnya. Beberapa peserta yang lain malah cepat sekali kabur entah kemana, namun belakangan diketahui kalo mereka menyerbu ayam KFC dan minum Cocacola sebagai pelampiasan setelah makan ikan dan ikan selama 5 hari berturut-turut.
 
Menjelang malam, gue dan beberapa peserta lainnya yang tidak sempat ikut ke KFC sudah lapar banget, jadi mencuri start dinner di kompleks warteg di Sorong yang terkenal, ahh sayang gue lupa namanya. Namun gue masih inget ada dijalan yang sama dengan hotel La Meridien; Keluar dari Meridien ambil arah kanan, dan nanti kompleks warteg ada disebelah kiri jalan. Kompleks warteg in ramai juga, dan pengunjungnya pun sangat variatif, termasuk bule dan pejabat pula. Harga dan porsi termasuk oke lah. Rombongan gue sempet ketemu dengan beberapa pejabat setempat dan juga awak kapal Archipelago, sebuah kapal pesiar yang didesain bagi diver. Karena kami mencuri start dinner, tentu saja kami kelar dinner dulu sebelum rombongan peserta lainnya kelar. Mobil kami langsung meluncur dan mencari sasaran berikutnya, buah duku, yang katanya berbeda dengan duku di belahan Indonesia lainnya dan  tentu saja manis. Setelah sampai di hotel, rombongan duduk-duduk di lobby dan café lantai dasar sambil menikmati duku, ahh suasana relax dan joyful penuh canda hingga larut malam sebelum akhirnya kantuk menggiring masing-masing peserta ke tempat tidur. 
 
Esok paginya adalah hari terakhir di Sorong (tgl 10 Mei 2007); Beberapa peserta termasuk gue sudah bangun pagi sebelum subuh dan mulai hunting human interest di kompleks pasar ikan. Rupanya pukul enam pagi pasar masih belum ramai dan baru sekitar pukul setengah tujuh pengunjung mulai berdatangan sementara nelayan juga mulai mendarat dan menurunkan ikan. Wah, sungguh menarik pasar ikan ini dengan bermacam-macam ikan segar, mulai dari ukuran sedang (jarang sekali yang kecil) hingga yang raksasa. Gue mendapati ikan baracuda raksasa yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian; Kepalanya saja lebih besar dari kepala manusia, waooo, kalo gue diving ketemu ini pasti ngibrit dah. Ada juga beberapa ikan yang bahkan belum gue temui saat diving. Ada juga obyek-obyek lain yang menarik; Sayang gue tidak membawa kamera yang lebih proper untuk hunting di darat ini, sehingga dirasa kurang maksimal. Setelah hari terang benderang gue dan rombongan balik ke hotel buat sarapan. Dan rupanya kami kesiangan, sehingga menu sarapan sudah habis; Namun pihak hotel mengerti dan cepat menambahkan kembali. Ahh, bisa sarapan juga akhirnya. Setelah itu rombongan langsung packing, lalu checking ulang bagasi sebelum di bawa truk ke airport.  
 
Kami masiy ngobrol (karena jadwal keberangkatan pesawat nanti siang hari) saat beberapa waktu kemudian kami mendengar bahwa bagasi pesawat full dan akan overload (padahal ada sebagian kecil peserta yang tetap tinggal di Sorong untuk melanjutkan trip divingnya bersama kapal Archipelago), sehingga terpaksa sebagian bagasi harus diangkut dengan pesawat berikutnya/ berbeda. Panitia menjadi sedikit sibuk dan mengumumkan bahwa kemungkinan bagasi tidak komplit saat sampai di Jakarta, karena sebagian bagasi akan disusulkan kemudian. Namun demikian panitia juga akan mengusahakan agar seluruh bagasi teteup bisa terangkut semua dalam pesawat yang sama. Rombongan berlanjut ke airport dan lunch soto di kompleks airport, karena untuk lunch di tempat lain yang direncanakan sebelumnya bakal terlalu mepet waktunya. Seperti saat berangkat, pesawat Merpati juga transit di Makassar sebelum berlanjut ke Jakarta. Dan hebat, ternyata semua bagasi komplit terangkut, terbukti saat rombongan tiba di Jakarta, tak ada satu bagasipun yang tertinggal atau disusulkan (wah, apa ada bagasi lain yang digusur?…… Meneketehe).

More photoes have been uploaded into my three albums.... 
 

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sabtuminggu wrote on Jun 21, '07
asik bgt ye jalan terus.... bini kaga diajak ? hehe..
petitehirondelle wrote on Jun 22, '07
ck ck ck.. Asyik yach jln2 mulu. Laen x ikutan ah.. ^_^
athiaajalah wrote on Jun 25, '07
kaya "job report" om? hehe
richardkurni wrote on Jun 25, '07
kaya "job report" om? hehe
@Rsoo: how?
@Jean: Monggo ikut ajah
@Athia: Biar bisa jadi inpo buat pembaca lainnya. hehehe
All: Hope you guys enjoy the story and photoes
riaqorina wrote on Jun 26, '07
Enak nyaa....Thanks for Sharing Mas. Masih ada Papua 3rd visit nda? atau foto2 yg lainnya hehe
richardkurni wrote on Jun 26, '07
Enak nyaa....Thanks for Sharing Mas. Masih ada Papua 3rd visit nda? atau foto2 yg lainnya hehe
Semoga ada deh 3rd visit..xi xi xi...
Foto laen ada...rencana akan diupload satu album lagi.. sisanya.. liat dirumah ajah ya.. hehehe
holidaymania wrote on May 7
Saya suka situs Mios Kon! Baik underwater maupun pulaunya. Sempat ke Mike's Point gak? Itu juga cantik banget... banyak overhangs & gua-gua sempit!
richardkurni wrote on May 7
Saya suka situs Mios Kon! Baik underwater maupun pulaunya. Sempat ke Mike's Point gak? Itu juga cantik banget... banyak overhangs & gua-gua sempit!
Saya suka juga Mios Kon.. juga Mike's Point...
Yuk daiping bareng yuk... :)
holidaymania wrote on May 7
(Continuation of Papua Underwater Heaven Trip - The Story, Part I)
 
Kontes hari ketiga dimulai dengan tujuan divespot Mioskon yang mana sudah dikunjungi pada hunting foto hari pertama namun saat itu situasinya kurang menguntungkan sehingga mendorong peserta dan panitia untuk mengulang. Kondisi badan gue masih tidak enak dan susah makan, namun gue paksakan untuk makan apa yang mampu dimakan, seperti cemilan singkong goreng dan sebagainya yang lebih mudah masuk daripada masakan ikan dan sayur yang umumnya pedas dan terus menerus sejak hari pertama. Diving di Mioskon kali ini memang lebih oke dibandingkan sebelumnya; Schooling sweet lips sungguh menawan hati, sayang kamera gue kurang mampu untuk mengabadikan indahnya alam bawah air ini. Syukurlah banyak foto yang lain bisa diambil dalam situasi ini. 
 
Dive kedua hari ini mengulang divespot yang kemarin diubah, yakni Batu Lima. Kontur dasar laut yang merupakan gabungan drop off dan slope sungguh menarik, bahkan ada celah yang bisa menjadi obyek foto yang sangat bagus. Namun sayang gue dan kebanyakan diver lain melewatkannya. Mungkin karena sebagian besar kurang mengetahui detil medan. Celah ini baru gue tau setelah salah satu panitia pendamping yang sudah beberapa kali ke sini bercerita setelah kelar diving. Hmm, kalo sebelum diving mgkn gue akan cari tuw celah, hahahha. Belakangan juga gue denger kalo group III mengambil destinasi yang sangat jauh untuk mengejar obyek Manta, wah hebat semangatnya. Gue angkat topi buat usaha dan jerih payahnya. 
 
Hari ini rupanya semua peserta mampu melakukan diving 3x setelah penambahan dan pengisian tanki terus menerus dilakukan semalaman. Dan sebagai sasaran dive ke tiga adalah kembali ke Saunex Jetty, yang memang menjadi divespot favorit. Tujuan utama gue ke sini kali ini adalah mencari dan memfoto Ornate Ghost Pipe Fish. Namun rupanya setelah sesi foto kemaren yang penuh ‘ide kreatif’ membuat criters ini bersembunyi ato bahkan berpindah tempat. Jadi gue tidak menemukan sasaran utama, ya sutra lah. Untuk selanjutnya mungkin gue tidak perlu cerita karena memang divespot ini sungguh bagus dan recommended. 
 
Kembali malam hari penuh keceriaan dengan hasil foto yang aduhai. Sayang badan gue ajah yang nggak sehat terasa makin drop dan efeknya mulai makin terasa. Keliatannya maag gue rewel dan masuk angin sehingga mencret-mencret. Ahh sungguh mengganggu hingga tengah malam pun harus ke WC karena mencret-mencret trus; Bisa dibayangkan makan sudah sangat sedikit karena susah masuk, masih mencret-mencret juga. Jadi pastilah perut kosong melompong. Obat maag dan anti diare dikonsumsi. Apapun makanan/ cemilan yang tidak eneg gue paksakan masuk, juga minum air yang diberi campuran semacam nutrisari untuk mempermudah di telan. Gue harus bisa bertahan untuk tidak makin parah dan ambruk. 
 
Esok hari adalah hari bebas dimana pemotretan hari ini tidak dikumpulkan dan tidak menjadi bahan kontes bagi panitia. Gue merasa lebih baik istirahat daripada mengikuti  nafsu untuk terus diving seperti peserta lainnya. Seharian gue tiduran terus sambil sedikit-sedikit ngemil dan minum. Siang hari gue juga baru tau kalo salah satu peserta yang kebetulan juga seorang dokter (kandungan) juga kurang enak badan dan beristirahat juga sepanjang hari. Praktis hari ini gue tidak banyak melakukan aktivitas selain tiduran, sementara peserta lain melakukan setidaknya 2x dive. 
 
Malam hari ini merupakan malam hari terakhir tidur di WaiSai karena esok hari sudah harus balik ke Sorong. Mulai sore tadi, para peserta dan panitia sudah mulai packing, sementara gue masih ogah-ogahan karena badan tidak sehat. Namun demikian malam hari, semua foto gear dan dive gear gue sudah gue pretelin dan diangin-anginkan supaya kering dan esok pagi tinggal masuk tas.
 
Esok pagi semua peserta sibuk dengan pengepakan, termasuk gue yang belom packing sama sekali dari kemaren. Namun mungkin karena gear gue nggak banyak jadi packing cepet selesai, termasuk dismantle telpon satelitnya juga. Semua bagasi mulai dibawa ke dermaga untuk boarding ke kapal. Kapal untuk bagasi rupanya dibedakan dengan kapal untuk penumpang, karena penumpang akan menuju ibukota kabupaten untuk mengikuti ceremonial perayaan kabupaten dan juga tentunya penyerahan trophy bagi pemenang. Kota yang kecil (maaf lupa namanya) ini sebenarnya masih satu pulau dengan WaiSai, yaitu pulau Waigeo, namun pencapaiannya jauh lebih mudah dengan menggunakan kapal karena blum ada jalan darat untuk ke sana. Dalam perjalanan ini ada salah satu boat yang rewel mesinnya, namun dapat diatasi di tengah laut. Saat mendekati dermaga, boat kami diminta menyingkir (loh kenapa?), rupanya ada pejabat kepolisian yang hendak mendarat juga padahal mereka ada di belakang rombongan kami. Suatu kebiasaan pejabat yang menurut gue kurang simpatik.
 
Di dermaga ibukota kabupaten Rajah Ampat kami melanjutkan perjalanan di tanah keras bergelombang dengan minibus sekitar 15-20 menit menuju pusat kota dimana ada kantor pemerintahan setempat. Upacara rupanya sudah berlangsung dan rombongan kami masuk lewat belakang (rupanya kompleks kantor pemerintahan ini baru sehingga di sana-sini masih banyak bekas pembangunan dan genangan air) dan duduk manis dideretan belakang. Di akhir acara, pengumuman dan pembagian trophy dilakukan dan seperti yang gue duga rekan kami Achung seorang photographer pro menjadi grand winnernya. Dan untuk menyemarakkan suasana, semua hasil foto masing-masing peserta yang paling menarik dipamerkan; Namun dikarenakan satu dan lain hal maka hasil foto itu harus dipegang satu persatu oleh masing-masing peserta sebagai standing supportnya. Begitu acara kelar, peserta dipersilahkan makan, lagi lagi menu utama adalah ikan. Jadi selama lima hari berturut-turut rombongan kami makan ikan dan ikan, walo cara penyajiannya berbeda-beda, kadang digoreng, disup ataupun dibakar/ diasap. Ikannya adalah ikan besar-besar segedhe paha (tuna, cakalang, tengiri, kakap), yang menurut gue kurang gurih dibanding dengan ikan yang sama namun lebih kecil yang biasa dijumpai di Jakarta. Beberapa peserta gue amati sudah tidak nafsu makan dan memilih cukup minum saja; toh siang nanti sudah balik ke Sorong. Gue sendiri sudah mulai bisa makan walau sedikit, kondisi badan gue rupanya sudah membaik; Syukurlah. Yang menarik di sini adalah selain ikan, ubi juga menjadi lauk pendamping nasi. Kelar makan, rombongan langsung naik minibus balik ke dermaga dan lanjut ke Sorong dalam 2 jam perjalanan speedboat. Rupanya speedboat yang sama yang gue tumpangi dari Sorong ke WaiSai sekarang lebih kencang dan bahkan paling kencang dibanding speedboat lainnya, mungkin mesinnya sudah diservice. Perjalanan balik ini dirasa lautnya lebih bumpy daripada saat gue datang, namun masiy oke lah.
 
Sampai dipelabuhan Dinas Kelautan dan Perikanan rombongan speedboat gue sempet ‘leyeh-leyeh’ dulu menunggu speedboat yang lainnya. Ada salah satu boat malah mendarat di pelabuhan perikanan nelayan, halah koq bisa gitu?. Anyway, begitu rombongan lengkap kami langsung melanjutkan ke Sorong dan check in di hotel yang sangat dekat dengan airport Sorong, hotel La Meridien. Rupanya hotel tiga (atau empat) lantai ini belom dilengkapi dengan lift, sehingga kami harus naik tangga untuk mencapai kamar masing-masing. Sedangkan bagasi gear kami yang berat kami tinggal di lantai dasar, titip dengan pihak hotel. Kamarnya oke dan luas, gue trus mandi menikmati air tawar Sorong dan kemudian ngobrol dengan peserta lainnya. Beberapa peserta yang lain malah cepat sekali kabur entah kemana, namun belakangan diketahui kalo mereka menyerbu ayam KFC dan minum Cocacola sebagai pelampiasan setelah makan ikan dan ikan selama 5 hari berturut-turut.
 
Menjelang malam, gue dan beberapa peserta lainnya yang tidak sempat ikut ke KFC sudah lapar banget, jadi mencuri start dinner di kompleks warteg di Sorong yang terkenal, ahh sayang gue lupa namanya. Namun gue masih inget ada dijalan yang sama dengan hotel La Meridien; Keluar dari Meridien ambil arah kanan, dan nanti kompleks warteg ada disebelah kiri jalan. Kompleks warteg in ramai juga, dan pengunjungnya pun sangat variatif, termasuk bule dan pejabat pula. Harga dan porsi termasuk oke lah. Rombongan gue sempet ketemu dengan beberapa pejabat setempat dan juga awak kapal Archipelago, sebuah kapal pesiar yang didesain bagi diver. Karena kami mencuri start dinner, tentu saja kami kelar dinner dulu sebelum rombongan peserta lainnya kelar. Mobil kami langsung meluncur dan mencari sasaran berikutnya, buah duku, yang katanya berbeda dengan duku di belahan Indonesia lainnya dan  tentu saja manis. Setelah sampai di hotel, rombongan duduk-duduk di lobby dan café lantai dasar sambil menikmati duku, ahh suasana relax dan joyful penuh canda hingga larut malam sebelum akhirnya kantuk menggiring masing-masing peserta ke tempat tidur. 
 
Esok paginya adalah hari terakhir di Sorong (tgl 10 Mei 2007); Beberapa peserta termasuk gue sudah bangun pagi sebelum subuh dan mulai hunting human interest di kompleks pasar ikan. Rupanya pukul enam pagi pasar masih belum ramai dan baru sekitar pukul setengah tujuh pengunjung mulai berdatangan sementara nelayan juga mulai mendarat dan menurunkan ikan. Wah, sungguh menarik pasar ikan ini dengan bermacam-macam ikan segar, mulai dari ukuran sedang (jarang sekali yang kecil) hingga yang raksasa. Gue mendapati ikan baracuda raksasa yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian; Kepalanya saja lebih besar dari kepala manusia, waooo, kalo gue diving ketemu ini pasti ngibrit dah. Ada juga beberapa ikan yang bahkan belum gue temui saat diving. Ada juga obyek-obyek lain yang menarik; Sayang gue tidak membawa kamera yang lebih proper untuk hunting di darat ini, sehingga dirasa kurang maksimal. Setelah hari terang benderang gue dan rombongan balik ke hotel buat sarapan. Dan rupanya kami kesiangan, sehingga menu sarapan sudah habis; Namun pihak hotel mengerti dan cepat menambahkan kembali. Ahh, bisa sarapan juga akhirnya. Setelah itu rombongan langsung packing, lalu checking ulang bagasi sebelum di bawa truk ke airport.  
 
Kami masiy ngobrol (karena jadwal keberangkatan pesawat nanti siang hari) saat beberapa waktu kemudian kami mendengar bahwa bagasi pesawat full dan akan overload (padahal ada sebagian kecil peserta yang tetap tinggal di Sorong untuk melanjutkan trip divingnya bersama kapal Archipelago), sehingga terpaksa sebagian bagasi harus diangkut dengan pesawat berikutnya/ berbeda. Panitia menjadi sedikit sibuk dan mengumumkan bahwa kemungkinan bagasi tidak komplit saat sampai di Jakarta, karena sebagian bagasi akan disusulkan kemudian. Namun demikian panitia juga akan mengusahakan agar seluruh bagasi teteup bisa terangkut semua dalam pesawat yang sama. Rombongan berlanjut ke airport dan lunch soto di kompleks airport, karena untuk lunch di tempat lain yang direncanakan sebelumnya bakal terlalu mepet waktunya. Seperti saat berangkat, pesawat Merpati juga transit di Makassar sebelum berlanjut ke Jakarta. Dan hebat, ternyata semua bagasi komplit terangkut, terbukti saat rombongan tiba di Jakarta, tak ada satu bagasipun yang tertinggal atau disusulkan (wah, apa ada bagasi lain yang digusur?…… Meneketehe).

More photoes have been uploaded into my three albums.... 
 
Ayuk! Tgl 16 - 23 Mei ini saya mau diving ke Ambon. Mau ikut?
richardkurni wrote on May 8
Ayuk! Tgl 16 - 23 Mei ini saya mau diving ke Ambon. Mau ikut?
Waaaaa,....... ndadak neh.. gue baru balik dari Morotai, tongpes dan baru cuti juga.... duh duh... pengin tapinya... hiks...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.