richard kurniawan's site

Blog EntryRanah Minang - Jalan-jalan & BlajarMay 28, '07 3:31 AM
for everyone
Catper ini mestinya dibikin lebih cepat, namun karena kebanyakan jalan jadi tertunda hampir dua bulan sejak perjalanan terjadi sebelum perjalanan gue ke Papua; jadi mungkin sebagian juga sudah lupa dan menjadi kurang akurat. Perjalanan ini bagi gue mungkin lebih tepat sebagai penjajakan untuk berbagai alasan. Pertama, karena jalan sama para photographer pro yang notabenenya tidak satupun yang gue kenal secara langsung selain via imel itupun satu dua orang saja. Kedua, gue blom pernah ke Ranah Minang seblomnya. Ketiga, gue tidak tahu persis sejarah diskusi itinerary trip para photographer ini, jadi gue pasrah ‘bongkokan’ ajah dengan taste para photographer pro ini. Keempat, sebenernya pendaftaran juga sudah close, namun mungkin ada alasan tertentu sehingga panitia mau mengajak gue untuk ikut; Wah senangnya…. Hehhehe. 
 
Berhubung sangat excited dan mesti nyiapin ini itu, maka bisa dikatakan gue sangat kurang tidur saat berangkat ke airport dipagi buta tgl 4 April 2007. Matahari blom terbit saat gue tiba di airport Ceng
kareng dan mulai berkenalan satu persatu dengan anggota rombongan dan panitia. Subuh, saat mentari terbit, pesawat take-off menuju Padang. Perjalanan hampir 2 jam berlangsung dengan mulus. Di pesawat kebetulan bersebelahan dengan seorang ibu photographer yang manis dimana gue bisa berguru. Sementara sebelah satunya adalah photographer gaek yang tidak diragukan lagi reputasinya. Ngobrolnya, waduh, secara gue masiy coba-coba moto, jadi rasanya gue jadi pendengar yang setia, bahkan kalo mo nanyak ajah gue gak tau mesti nanyak dari mana? Kampungan yak, kayak bumi dan langit. Namun demikian mereka adalah orang yang sangat ramah dan penuh canda, gue juga bisa belajar dari mereka, walau seringkali gue tidak tau mau bertanya apa.
 
Setiba di airport Padang, ternyata rombongan disambut oleh pejabat setempat, wah gue tidak menduga kalo ada protokoler pake kata sambutan dan ada wartawan alias bakal masuk mass-media, hahahha. Memang hebat panitianya, te o pe be ge te deh.
 
Ada satu hal bikin gue makin njiper pergi bersama photographer pro, adalah saat melihat
photo gear mereka keluar dari railway bagasi. Haduh, ampun deh, bener2 silau mata gue hehhehe. 
 

Ternyata di Bandara Padang sudah siap juga 3 orang cewek model yang akan ikut bersama. Setelah briefing singkat dari panitia dan pembagian mobil bagi rombongan beserta drivernya serta photo keluarga di halaman parkir airport, kami langsung berangkat untuk lunch di restoran Lamun Ombak yang tidak terlalu jauh dari airport dalam perjalanan menuju Lembah Anai. Pagi hari yang belum sempat sarapan jelas membuat brunch rombongan jadi kalap. Bagi gue pribadi resto Lamun Ombak bukanlah sangat istimewa, namun mungkin karena tastenya yang bisa diterima pendatang dan lokasi strategis sehingga menjadikan resto ini terkenal dimata pendatang. 
 

Perjalanan langsung berlanjut ke lembah Anai tepatnya menuju bangunan yang berfungsi sebagai gardu pandang untuk menikmati panorama lembah Anai, namanya Bukit Tambun Tulang. Bangunan ini ada keretakan karena terjadinya gempa beberapa bulan yang lampau. Namun dari informasi orang setempat masih cukup aman untuk dipergunakan sehingga kami tetap mendatanginya dan juga berfoto ria di sana. Sebagian peserta ada yang langsung berjalan kaki ke air terjun lembah Anai yang tidak terlalu jauh (penduduk setempat menyebutnya Aie Mancua/ Air Mancur). Namun sebagian menumpang mobil juga. Di air terjun ini kami kembali motret sana sini. Termasuk juga motret kondisi perkemahan pengungsi disekitar rel kereta (rel kereta yang katanya akan diresmikan penggunaannya kembali, namun tertunda karena gempa), motret gorong-gorong air didepan air terjun, juga sungai berbatu di seberang rel. Banyak lah obyek yang bisa dijadikan obyek foto, justru modelnya sendiri jadi kurang ‘laku’ hahaha. Di sini terjadi pula musibah pertama, dimana rekan photographer N ada yang terjatuh disungai sehingga sikunya terluka, namun kamera selamat, hanya photobanknya yang ‘klelep’. Sementara satu rekan cewek D juga terjatuh di bahu rel kereta dengan tas kamera tertindih dipunggung (belakangan diketahui bahwa tidak satupun photogear yang cedera) sementara kondisi badan aman-aman saja, kecuali lecet di betis. Sementara itu mulai terdengar pembicaraan mengenai banyaknya kabel dan tiang listrik yang merusak panorama; Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi pemerintah agar menjadikan obyek wisata yang bersih dari hal-hal yang merusak pemandangan. 
 
Perjalanan berlanjut menuju Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padangpanjang. Lagi-lagi kabel listrik menjadi pengacau pemandangan di seputar obyek foto. Sebenarnya acaranya adalah menuju Istana Pagaruyung, namun karena istana ini dalam perbaikan karena terbakar tersambar petir, maka destinasi rumah Gadang yang khas minang berubah menjadi PDIKM yang ternyata lumayan oke. Gue betul betul banyak belajar dari photographer pro dari ‘nguping’ dan ‘ngintip’ huehehe.. Gile bow, blajar gratiss.. hahahha.
 
Makan siang (ato mungkin lebih tepat disebut makan sore?) dilanjutkan di Bukittinggi didepan pintu gerbang benteng Fort de Kock dan Kebun Binatang. Namanya rumah makan Family, yang katanya nama Ayam Pop berasal dari resto ini. Rupanya kalo di ranah minang apapun jenis restonya, menunya masakan Padang semua huehehe.  

 
Hari sudah menjelang sore saat rombongan menuju Mahat, sebuah desa kecil yang nyaris terlupakan, kira-kira 1,5 jam perjalanan dari Payakumbuh. Gue tidak tau apa obyek yang dikejar disini esok harinya, namun gue percaya pasti obyek yang menarik, jadi pasrah ajah. Perjalanan menuju Mahat bukan perjalanan ringan, kondisi jalan yang menanjak, berlumpur dan berkerikil bekas longsor dari gempa, dan beberapa kerusakan badan jalan membuat driver harus ekstra hati-hati. Ditambah lagi hari mulai gelap. Namun namanya juga photographer, hari mulai gelap malah pada berhenti untuk mengabadikan sunset dari bukit (yang kebetulan agak berkabut) sekalian bersama modelnya yang kasian dicuekin, kekekeke. Makan malam kami justru di warung kecil sederhana dengan cahaya lampu petromaks dengan menu yang juga terbatas. Nama pemiliknya Datuk Siri, jadi deh Warung pak Datuk Siri. 
 
Di Mahat, rombongan tidur dirumah penduduk. Rombongan yang jumlahnya lebih dari 30 orang, masih ditambah driver membuat repot juga. Sementara para model pulang malam ini juga karena mereka ada acara untuk keesokan hari di lain tempat. Sebelum tidur kami sempatkan juga untuk mandi dirumah penduduk. Cuaca yang dingin dan remang-remang tidak menghalangi sebagian besar dari kami untuk mandi malam sebelum
tidur seperti ‘pindang’. Ternyata tidur ala pindang bisa sedikit mengurangi suejukknya Mahat, kekeke. O ya, sebelumnya ada acara saling memperkenalkan diri dalam rombongan itu; Dan ternyata ada dua cowok Korea yang ikut dalam rombongan ini. 
 
Keesokan paginya rombongan harus bangun pukul empat (padahal baru tidur juga lewat tengah malam?) dan berangkat ke warung pak Datuk Siri jam 5 pagi untuk memburu sunrise, karena letak warung ini strategis menghadap lembah Mahat. Namun cuaca berkabut membuat cita-cita motret sunrise tinggal cita-cita. Jadinya ya motret apa ajah, terutama human interest, huehehe. Sayang sekali kamera pak B kecelakaan karena lepas dari sepatu tripod manfrottonya dan jatuh ke jurang, namun masiy bisa diselamatkan karena kamera tidak terjatuh terlalu jauh ke dalam jurang. Duh ada-ada ajah.  
 
Ternyata tujuan utama tidur di Mahat adalah menuju Koto Tinggi ke peninggalan situs megalitikum (bener nggak nulisnya?) berupa batu ‘menhir’ (seperti di cerita Asterix). Batu-batu vertical dengan ujung yang umumnya melengkung, semua diarahkan menuju bukit/ gunung Merapi. Beberapa terlihat berukir di badan batunya. Blom jelas siapa pembuat dan sejak kapan (ato gue yang kurang ngedengerin guidenya crita?), namun jelas keliatan tua dan kurang terawat, bahkan sempet denger kalo sebagian batu sudah diambil orang dan bahkan sudah ada yang dibawa keluar negeri, nah loh? O ya, dalam perjalanan ke sana sempat juga melihat Bukit Bolong. Kalo gue punya lensa tele yang kuat wah pasti dapet deh foto yahud. Menurut kabar, lubang di bukit ini cukup besar sehingga pernah ada pesawat capung yang diterbangkan bule memasuki lubang ini. Balik dari Menhir rombongan motret human interest di seputar Koto Tinggi dan Mahat yang menarik, terutama dengan keramahan penduduknya yang santun dan murah senyum. Desa di Mahat ini rupanya sangat terasing dengan terbukti tidak adanya signal telpon (baik hp atopun fix telpon). 
 
Perjalanan berikutnya langsung menuju lembah Harau, sepanjang perjalanan memang banyak obyek menarik, sehingga mobil sering berhenti. Di lembah Harau sendiri rombongan menuju air terjun; Hanya dua air terjun yang dikunjungi, walau katanya banyak sekali di seputar Harau. Air terjun yang pertama keliatan kecil sekali debit airnya walo letaknya tinggi sekali. Sayang sekali, jika debit airnya besar tentu sangat indah. Air terjun kedua (Sarasah Barayun = Air terjun Berayun) yang tidak jauh dari yang pertama mempunyai debit yang lebih besar, namun demikian tetap saja akan lebih indah jika debitnya lebih besar dengan ketinggian seperti itu. Keberadaan model dari Payakumbuh (Dini dan Rida) ikut menyemarakkan suasana, apalagi mereka tampil lebih cantik dengan kosmetik dan pakaian daerah yang menawan. Namun musibah juga terjadi disini, manakala ada camera yang tercebur air dibawah air terjun karena sepatu tripodnya lepas; Battery grip melayang deh, namun camera D200 selamat. Perlu dicatat, yang namanya sarapan, makan siang jadi serba nggak jelas deh, kesian jika seandainya ada rekan yang punya masalah dengan maag. Gue sendiri beruntung karena saat itu juga tidak banyak terganggu (dengan pola makan yang tidak jelas) selain kurang tidur. Di air terjun Harau ini, gue sempetin untuk mengisi perut dengan semangkok mie instant yang dibikin di warung setempat. Thanks juga buat rekan yang ngebayarin. 
 
Sore hari dalam perjalanan ke Bukittinggi untuk mengejar sunset di Ngarai Sihanouk mobil kami jauh meninggalkan rombongan yang lain. Terpaksa mobil menunggu dekat persimpangan monumen bung Hatta. Tunggu punya tunggu koq tidak muncul-muncul juga mobil yang lain? Ternyata mobil yang lain m
endapatkan obyek menarik diperjalanan dan sempat motret; Kemudian langsung ke Ngarai Sihanouk melewati mobil kita tanpa memberikan kabar; wah sayang sekali, mestinya mobil kita bisa ngejar sunset di Ngarai, tapi jadi terlewatkan. Belakangan dapat kabar kalo mobil yang lain juga telat beberapa menit di Ngarai Sihanouk, sehingga gak dapet juga moment sunsetnya.
 
Malem ini rombongan check-in di hotel Nikita Bukittinggi, ahh bakal nyaman sekali bobok malem ini setelah kemaren kurang tidur. Setelah makan malam yang ‘kalap’ di resto Simpang Raya dekat hotel, acara berikutnya adalah melihat pertunjukan kesenian Minang di Gedung Medan Nan Bapaneh. Pada awalnya gue rada ragu, masak semalam ini baru mulai pertunjukkan keseniannya? Ternyata panitia emang top deh, dengan koneksinya pertunjukan diundur demi rombongan kita, huebattt. Dan ternyata keseniannya cantik tenan, ada tari-tarian (tari piring, payung, etc), ada pencak silat ala Minang (Patah Tigo), pakaian ada perkawinan Minang, pertunjukan kebal pecahan piring, pertunjukan alat musik talempong, dll. Sayang, gue yang baru blajar moto tidak banyak yang bisa gue abadikan. Lain halnya dengan rekan photographer lain; Photonya cantik cantik sekali.
 
Kelar pertunjukan kesenian yang menawan, gue dan rombongan masih berhunting ria di seputar jam Gadang sampe sekitar pukul sebelas malam. Jam segini sekitar jam Gandang juga masih lumayan ramai, ada juga pasangan laki/laki disini… wah. Acara masih berlanjut dengan pemberian sumbangan rombongan ke posko bencana gempa di Bukittinggi. Lewat tengah malam baru balik ke hotel dan bobok. Padahal besok jam 4 pagi harus bangun untuk ngejar sunrise di Puncak Lawang, haduh, kurang tidur lagi neh.
 
Pagi pagi pukul empat pintu sudah digedor; Langsung mandi koboi trus sarapan. Terus berangkat menuju Puncak Lawang - Matur, yang konon merupakan salah satu lokasi start paralayang terbaik di dunia. Sayang kondisi Puncak Lawang penuh kabut dan angin bertiup kencang, sunrise terlewatkan, juga pemandangan Danau Maninjau juga tidak tampak. Jadinya pada moto pohon Pinus dan obyek lain. Ada juga yang poto narsis. Sampai sampai terjadi lagi musibah kamera pak H ambruk bersama tripodnya ditiup angin, kesian. Makin ditunggu ternyata kabut makin menjadi, angin juga makin kencang dan dingin, membuat perut keroncongan. Mie Instant panas bikinan warung setempat jadi ganjal; Nikmat sekali saat dingin dan gerimis halus. Rombongan terpaksa harus jalan lagi sebelum waktu habis.
 
Diperjalanan ini atas usulan salah satu peserta maka mampirlah di rumah makan Sate Mak Syukur yang top. Bagi gue pribadi terasa biasa-biasa saja dili
dah. Yang istimewa adalah sajian bumbu yang berwarna kuning dan bahan bakunya yang konon dari singkong; bener gak siy?
 
Dalam perjalanan menuju Solok, gue dan rombongan mampir sejenak di tepi Danau Singkarak untuk poto-poto. Danau Singkarak ternyata sangatlah luas, kalo tidak diberitahu kalo ini danau, pasti gue pikir teluk, hahahha. Lewat tengah hari rombongan sampai di Muara Kalaban – Solok. Di sini beberapa dari kami naik Lori (kereta) Wisata menuju Sawahlunto. Mungkin karena beban peserta yang banyak dan juga kondisi rel yang licin karena rumput yang terlindas membuat roda Lori sering selip dan mesti didorong peserta, dua kali malah, hehehe. Namun menarik juga karena Lori ini melalui terowongan gelap hampir 1 km jauhnya. Sungguh mengherankan manakala melihat bantalan rel yang umurnya jauh lebih tua dari gue (taon 1890), wuihh. Sesampai di Museum Kereta Api Sawahlunto, perjalanan dilanjutkan dengan hunting jalan kaki di kota Sawahlunto, hingga museum Goedang Ransoem, melewati beberapa jalan dan bangunan tua, the Heritage, dan Wisma Ombilin (yang mungkin hotel terbaik di Sawahlunto?). Sempat juga mampir di gereja Katholik Santa Barbara - Sawahlunto ‘setor muka’ sejenak di hari Jumat Suci. Di museum Goedang Ransoem, gue melihat bagaimana peralatan ransum jaman dulu dengan ukuran raksasa. Rombongan juga berbersih ria, mandi dan sebagainya, sebelum menghadiri jamuan makan malam dari walikota Sawahlunto. Pak walikota dan pejabat setempat juga membagikan CD dan buku tentang Sawahlunto bagi setiap anggota, wah menarik sekali! Terima kasih. 
 
Begitu kelar jamuan makan malam, perjalanan berlanjut menuju cottage di Danau Kembar, persisnya di Danau Di Atas. Perjalanan malem baru tiba dilokasi sekitar pukul 12 malam. Gelo abiss, check-in jam segini, hehehhe. Tapi rasa cape dan ngantuk dengan mudah membawa tidur, walo cuaca sangat
dingin. Selimut cottage sangatlah membantu.
 
Hari ke empat ini bisa dikatakan hari yang paling cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Sayang gue dan bang A rekan sekamar terbangun kesiangan sehingga merahnya langit saat sunrise terlewatkan.. hiks. Buka pintu ternyata sudah banyak rekan lain yang sibuk motreat sana-sini. Gile rajin abizz dah. Gue jadi lebih bersemangat deh, dengan sigap cuci muka dan bersih-bersih badan sejenak jadi ikutan motret, walo telat. Tidak lama rekan-rekan pada berangkat ke ‘The Peak’ dimana dari lokasi tersebut bisa melihat Danau Kembar secara (hampir) bersamaan. Kurang beruntung karena driver mobil gue terlambat, jadi deh gue ikut kloter kedua menuju The Peak. Namun demikian, toh bisa ikutan moto juga. Di The Peak ini ternyata banyak juga yang menjual bunga, sehingga kegiatan moto landscape bercampur moto makro juga. Setelah puas, rombongan kembali ke cottage untuk sarapan. Sarapan nasi goreng yang dimasak keluarga panitia di Alahan Panjang sungguh nikmat dipagi hari yang sejuk. Jelas-jelas bahwa lokasi pariwisata ini sangat cantik luar biasa, namun pengelolaan cottage Pemda dan layanannya sungguh perlu perbaikan yang massive. Kamar mandi yang tidak terawat, ketidaktersediaan air panas, kondisi kamar yang acak adul (padahal beberapa diantaranya baru lho), tidak adanya sarapan dan lain-lainnya membuat cottage ini menjadi kurang menarik walo secara rate bisa dibilang oke; Hanyalah view yang luar biasa cantiknya dan udara yang digin sejuk yang membuat gue betah berlama-lama di sini. Mustahil orang akan kembali jika viewnya sekadar diatas rata-rata dengan layanan dan kondisi cottage seperti ini. Belakangan tahu dari petugas setempat kalo lokasi ini sekitar 1700 mdpl, wah bener juga udaranya bisa sejuk dingin begini. O ya, kabar dari Panitia, ada posisi pandang yang lebih oke dari The Peak, kira-kira 3 km ke arah Gunung Talang, ini lokasinya lebih tinggi dikit dari The Peak. Juga disini ada danau ketiga, Danau Talang. Namun rombongan nggak punya banyak waktu buat ke sini. 
 
Menjelang siang, rombongan menuju Alahan Panjang, sebuat kota kecil tidak jauh dari cottage, di mana sanak keluarga dari panitia tinggal. Rombongan disuguhi berbagai macam kue khas daerah tersebut. Wuihhh, macemnya deh.. buanyak bow. Sayang kapasitas perut terbatas, hiks. Rombongan langsung hu
nting ‘human interest’ di pasar setempat, disaat hari Sabtu yang merupakan ‘hari pasar’ di Alahan Panjang. Setelah hunting kami lunch di rumah sanak keluarga panitia, nyam nyam… uenakkk bow. Bahkan beberapa ada yang kekenyangan sekaligus kecapean hingga tertidur di sofa, aje gile dah, hahhaha.
 
Perjalanan menuju pantai Bungus melalui Lubuk Selasih, Sitinjau Laut dimana gue dan rombongan mampir sejenak untuk melihat pabrik semen Indarung serta keindahan Kota Padang dan lautnya dari Panorama II Sitinjau Laut diatas bukit dan tentu saja motret lah. Namun rupanya kondisi berawan (dan polusi pabrik Semen?) membuat view kurang clear. Tidak lama rombongan di sini dan langsung melanjutkan perjalanan.
 

Di pantai Bungus kami menunggu sejenak hingga perahu siap. Namun karena kapasitas perahu yang sedikit, terpaksa rombongan dibagi dua. Sebagian peserta menuju Sungai Pisang, sekitar 30 menit dengan mobil dari Bungus. Dari Sungai Pisang ini mereka akan menggunakan perahu yang lain, namun dengan jarak tempuh yang lebih pendek ke pulau Sikuai (15 menit??). Gue sendiri berangkat dari Bungus, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Begitu sampai di Sikuai, ternyata rombongan tidak bisa langsung check-in karena ketua panitia masih belum sampai. Gak masalah, barang dititipin, sementara peserta sibuk hunting sana-sini. Malah ada yang naik bukit segala, untuk hunting sunset. Gue sendiri begitu kelar acara sunset langsung leyeh-leyeh dan ketiduran sampe malem, hampir tidak kebagian dinner. Mungkin gue dinner yang paling telat deh diantara semua rombongan. Kelar dinner, gue masiy ngobrol dikit, terus bobok lagi deh. 
 
Keesokan harinya, gue dan dua teman sekamar kembali bangun telat, dasarr, bukan photographer pro, hahhaha. Saat ke pantai, ternyata sudah banyak yang asyik motret model cowok brondong satu-satunya di pantai. Acara yang bisa dibilang bebas ini membuat rombongan mulai terpecah kesana kemari. Sebagian malah sudah bangun jam 4.30 naik ke puncak bukit buat ngejar Sunrise, gak taunya cuaca berawan, kecian deh (btw, kabar dari mereka, ada kolam renang di puncak lho!). Gue sendiri bersama ketua panitia memutuskan untuk snorkeling, menyewa perahu dan mencari area yang bagus untuk ini. Siapa tau next time kembali untuk diving. Sebenarnya kami juga berencana untuk diving, namun karena kurang siapnya pihak Sikuai sehingga tak ada satupun tabung yang available. Namun melihat kondisi coral di pulau-pulau sekitar Sikuai yang sangat menyedihkan, kalopun ada tabung, jelas gue juga males buat diving, walaupun kondisi air lautnya lumayan bening dan pantai pasir putihnya luar biasa cantik. Begitu melihat spot yang keliatannya oke, langsung melakukan apnea melakukan pengecekan; Hasilnya terlihat coral yang hancur lebur! Ahh mengerrikan. Namun gue masih teringat betapa cantik dan indahnya pulau Pagang dengan wisma yang jauh lebih sederhana dibanding di Sikuai (lebih murah lagi, hehehe). Akhirnya perahu merapat ke pantai pasir putih yang sepi dan landai. Gue dan kawan-kawan jadi bermain dan model dadakan, kaco dah.
 
Menjelang makan siang, perahu balik ke Sikuai, masiy ada yang sibuk moto sana-sini, gue menyempatkan berenang sejenak dikolam terus mandi dan lunch. Beberapa peserta rombongan sudah harus balik ke Padang karena harus terbang balik untuk tugas yang lain. Sementara gue dan sisa rombongan balik ke Padang menjelang sore. Kembali rombongan dipisah, sebagian di drop di Sungai Pisang (yang belakangan denger kabar kalo mereka yang di Sungai Pisang dapet obyek-obyek foto yang menarik) dan sebagian terus ke Bungus. Perjalanan perahu balik ke Bungus kali ini disiram hujan yang deras dan lumayan berangin, perahu bocor pula. Udah deh, terpaksa gue, kemudian sang model dan beberapa peserta harus memegangi atap mencegah air bocor. Sebagian peserta, keliatan pucat dan berdoa dengan khusuk. Immanuel, Tuhan beserta kita; Semua selamat tiba di Bungus dengan cuaca yang masih hujan deras dan bergelombang. Mobil penjemput dimajukan hingga dermaga dan kami mulai berantai men’download’ muatan. Memang sebagian besar dari kami basah kuyup, ya sudahlah. Yang penting, semua peserta dan gear selamat.  
 
Sampai di hotel Nuansa Padang, kami segera mandi air hangat. Sore hari yang kurang bersahabat membuat niatan moto di Bukit Lampu dan pantai dekat Teluk Bayur terpaksa dilewatkan dan akhirnya kami keluar saat dinner.
 
Pilihan dinner kali ini di Martabak Kubang, tentu saja yang dijagokan di sini adalah Martabaknya, walopun gue juga makan Nasi Gorengnya yang mantab, sementara yang lain ada yang memilih Sate Padang dan Mie Rebus. Usai dinner, rombongan nyerbu toko ‘Christine Hakim’ untuk beli oleh-oleh. Ternyata sodara-sodara Christine Hakim ini saling mirip sekali wajahnya. Setelah blenja blenji oleh-oleh, rombongan menutup malam dengan acara makan duren di Aling Lawas; Gue dan beberapa kawan yang lain mencari dendeng balado pak Gole (CMIIW) yang emang uenakk dan ueempukkk disekitar pecinan kota Padang. Tak lupa gue memesan lebih untuk dibawa Jakarta. Balik ke hotel Nuansa, semua sudah bersiap-siap buat bobok.
 
Esok pagi, rombongan packing up dan menuju bandara. Foto bersama di bandara saat hendak balik jelas berbeda dengan saat baru datang; Yang dulunya OE sekarang jadi UE, huahahhahha (foto?? See more in my multiply photo album)
 
(Top dah buat Uda N dan tim panitia, millions thanks!!. Thanks juga buat rekan semobil yang oke banget, mba D, bang AR, bang SH. Juga rekan sekamar bang A. Tentu saja buat semua peserta yang oke banget, thanks!! Gue bisa belajar moto banyak disini.)



laurasaid wrote on May 28, '07
Hiks... I miss my bukittinggi...!!! Pak, disana, tepatnya pasar atas, ada yg lebih mantep resto padangnya, namanya Nasi Kapau Uni Lis.. !

Ke ngarai sianok juga toh? nyobain itiak lado hijau nya??? (*makanaaaann mulu..hehehe!!)

ditunggu foto2nya ya...!!!
Comment deleted at the request of the author.
richardkurni wrote on May 28, '07
Hiks... I miss my bukittinggi...!!! Pak, disana, tepatnya pasar atas, ada yg lebih mantep resto padangnya, namanya Nasi Kapau Uni Lis.. !

Ke ngarai sianok juga toh? nyobain itiak lado hijau nya??? (*makanaaaann mulu..hehehe!!)

ditunggu foto2nya ya...!!!
Wah, iya.. tapi blom sempet nyoba, kalo tau dari dulu, gue bakal nyoba. Itiak lado hijau dimana ya persisnya??
sabtuminggu wrote on May 28, '07
kok banyak banget kamera melayang.. ? padahal gw baru beli kepala manprot baru..
mungkin yg konstruksi lama lbh kuat ya.. made of solid timbal... gak kopong kayak skrg..

richardkurni wrote on May 28, '07
kok banyak banget kamera melayang.. ? padahal gw baru beli kepala manprot baru..
mungkin yg konstruksi lama lbh kuat ya.. made of solid timbal... gak kopong kayak skrg..

Gue pribadi ngeliat ada gabungan problem, maksudnya si pengguna kurang memasang dengan benar; Dan dilain pihak secara design kurang membuat pengguna 'ngeh' pemasangannya sudah 'nyeklek' apa belon.... imho lho, he3x
riharsyapratama wrote on May 17
Salam kenal dari orang kampung Alahan Panjang. Tolong di promo lagi ya Pak>
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.